Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Fattah (STAIFA) Pacitan menggelar Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-6 Tahun 2026 pada Selasa (6/10/2026). Prosesi wisuda yang berlangsung khidmat ini menjadi momentum bersejarah bagi para mahasiswa yang telah menempuh pendidikan selama kurang lebih empat tahun, sekaligus menandai awal perjalanan baru dalam mengamalkan ilmu dan mengabdi kepada masyarakat.
Wisuda tersebut diikuti oleh lulusan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dan Hukum Ekonomi Syariah (Mu’amalah). Kehadiran para wisudawan dan wisudawati bersama orang tua, keluarga, serta sivitas akademika menambah suasana haru dan kebahagiaan dalam perhelatan akademik yang diselenggarakan di lingkungan kampus STAIFA Pacitan, Desa Jatimalang, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan.
Ketua STAIFA Pacitan, Dodik Prasetyo, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa wisuda bukan sekadar seremoni pengukuhan gelar akademik, melainkan buah dari perjuangan, kerja keras, doa, dan pengorbanan yang panjang. Keberhasilan para lulusan, menurutnya, tidak terlepas dari dukungan orang tua, keluarga, serta bimbingan para dosen yang senantiasa mendampingi perjalanan akademik mahasiswa.
“Atas nama STAIFA Pacitan, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para orang tua, wali, keluarga, serta para dosen yang dengan sabar dan tulus mendampingi perjalanan akademik para lulusan”, ungkap Dodik Prasetyo. Ia menegaskan bahwa gelar sarjana yang diraih bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi harus diwujudkan dalam sikap, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Ilmu yang Anda peroleh hendaknya tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam sikap, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat”, pesannya kepada para wisudawan.


Pesan pengabdian tersebut selaras dengan amanat Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil Arjosari Pacitan, KH. Hammam Fathulloh HB., S.E., M.Pd. (Gus Hammam). Dalam sambutannya, ia mengingatkan kembali pesan almarhum KH. Moch. Burhanuddin HB yang selama ini disampaikan dalam berbagai momentum wisuda, baik kepada mutakharij Pondok Pesantren Al-Fattah maupun lulusan STAIFA Pacitan.
Gus Hammam menyampaikan bahwa terdapat empat amanah utama yang harus dijaga oleh setiap lulusan setelah menyelesaikan pendidikan, yakni menguasai ilmu secara benar, membangun karakter, menyebarluaskan ilmu, dan menghadirkan hikmah di tengah kehidupan masyarakat.
Amanah pertama adalah menguasai ilmu pengetahuan secara kafah, benar, dan bertanggung jawab. Para lulusan diharapkan tidak hanya memahami materi yang telah dipelajari, tetapi juga menjaga kesinambungan sanad atau mata rantai keilmuan yang jelas. Ia mengingatkan bahwa tradisi keilmuan Al-Fattah memiliki keterkaitan historis dengan Perguruan Islam Pondok Tremas yang menjadi salah satu akar penting perjalanan pendidikan pesantren tersebut.
Amanah kedua ialah membangun karakter sebagai insan berilmu. Menurut Gus Hammam, identitas sebagai lulusan pesantren dan perguruan tinggi Islam harus tercermin dalam kepribadian, perilaku, serta cara berinteraksi dengan masyarakat. Gelar akademik hendaknya berjalan seiring dengan akhlak, tanggung jawab, dan keteladanan.
“Panjenengan semua harus mampu membangun karakter di masyarakat, karakter diri sebagai seorang mutakharij pesantren, sebagai lulusan STAIFA dan sebagai pribadi yang mengemban ilmu pengetahuan”. tuturnya.
Amanah ketiga adalah menyampaikan dan mengamalkan ilmu untuk kemaslahatan masyarakat. Ia mengibaratkan ilmu memiliki kewajiban yang harus ditunaikan sebagaimana harta memiliki kewajiban zakat. Karena itu, ilmu tidak cukup hanya dimiliki, tetapi harus disebarluaskan dan diamalkan agar memberikan manfaat bagi kehidupan.
“Ilmu itu juga menuntut zakatnya. Zakat ilmu yaitu nasyrul ilmi, menyampaikannya”, tegasnya. Ia berharap ilmu yang dibagikan para lulusan menjadi ilmu yang nafi’ah, yakni ilmu yang bermanfaat, membawa keberkahan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Adapun amanah keempat adalah menghadirkan hikmah dalam kehidupan sosial. Para lulusan diharapkan mampu menggunakan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki untuk membantu masyarakat bersikap arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan. “Wal-hikmah, mampu membuat masyarakat sekitar, manusia yang lain menjadi arif dan bijaksana dalam memandang dinamika kehidupan. Tentu melalui ilmu pengetahuan ini”, ungkapnya.
Menurut Gus Hammam, keempat amanah tersebut bermuara pada satu tujuan utama, yaitu menjadikan kehadiran lulusan sebagai sumber manfaat bagi sesama. Kemanfaatan itulah yang diharapkan menjadi amal jariyah sekaligus bekal dalam kehidupan akhirat. “Kehadiran kita semua harus menjadi manfaat. Kemanfaatan kita di tengah-tengah masyarakat itulah nanti yang menjadi amal jariyah panjenengan sami, dan insyaallah menjadi bekal kita sowan ke hadirat Allah SWT”, tuturnya.
Selain menyampaikan pesan moral kepada para lulusan, Dodik Prasetyo juga memaparkan arah pengembangan STAIFA Pacitan ke depan. Sejumlah langkah strategis disiapkan untuk memperkuat kualitas perguruan tinggi agar mampu menjawab tantangan pendidikan dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Fokus pengembangan tersebut meliputi penyiapan sumber daya manusia yang profesional, digitalisasi kampus, peningkatan sarana dan prasarana yang representatif, penguatan riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang berdampak, pengembangan kewirausahaan kampus, perluasan kemitraan, serta penguatan tata kelola dan penjaminan mutu secara berkelanjutan. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan, memperkuat budaya akademik, serta memperluas kontribusi STAIFA Pacitan dalam bidang pendidikan Islam dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi para lulusan, pengembangan kampus tersebut menjadi bagian dari kesinambungan perjuangan pendidikan yang tidak berhenti setelah wisuda. Keberhasilan perguruan tinggi juga diharapkan tercermin dari kiprah alumninya dalam mengamalkan ilmu, menjaga integritas, dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.

Di penghujung sambutannya, KH. Hammam Fathulloh HB. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati STAIFA Pacitan angkatan ke-6. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan pendidikan dan prosesi wisuda.
Ia berharap Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, khususnya STAIFA Pacitan, terus berkembang, memperkuat perannya dalam dunia pendidikan, dan memberikan kontribusi yang semakin luas bagi masyarakat. “Semoga Pondok Pesantren Al-Fattah Kikil, wabil khusus STAIFA Pacitan, tambah dangu tambah ngremboko, li i’la’i kalimatillah”. pungkasnya.
Wisuda Sarjana ke-6 STAIFA Pacitan Tahun 2026 pun menjadi penanda berakhirnya satu fase perjalanan akademik sekaligus dimulainya tanggung jawab baru. Dengan bekal ilmu, karakter, kemampuan menyebarluaskan pengetahuan, dan hikmah, para lulusan diharapkan mampu melangkah ke tengah masyarakat sebagai insan akademik yang berintegritas, berakhlak, dan membawa manfaat bagi agama, bangsa, serta kemanusiaan.
